Sedih Atau Bahagia..?
tit tit tit…. hp doremonku kembali berteriak memanggilku untuk sekedar mencolek tubuhnya dan melihat, siapakah yang sms pagi pagi..? Ooohh, ternyata dari masku, sepertinya dia sedang gila pagi ini, berkali kali sms yang isinya acak adul gak karuan
whats wrong bro..?
tit tit tit.. eh, dia bunyi lagi, kali ini aku setengah menggerutu dan menahan tawa melihat sms, kirain masku lagi, tapi ternyata bukan, kali ini dari Mbak Eppy, sepupuku di Jakarta.
Assalamu’alaykum. Ekik, kmrn anaknya Joko meninggal.
Sebuah sms singkat, tapi beraura duka. Keponakanku, Dafa telah dipanggil olehNya. Adek, dirimu masih sangat balita, usiamu barulah 6 bulan. Ayah bundamu sedang menikmati kelucuan dari polahmu dek. Tapi ternyata Allah lebih menyayangimu, Dia tak membiarkan dirimu teracuni sampah dunia ini. Innalillahi wa inna illaihi raji’un..
Duka kembali bergelayut di hatiku, tapi sudah tidak seberapa lagi. Karena tempaan waktu dan kepergian ayahanda kemarin ternyata membawa kekuatan yang sangat pada diriku. Sejurus kemudian, tanganku kembali beraksi, memforwardkan sms duka itu ke keluarga besar, memanjatkan doa untuk keponakanku tersayang, meskipun kuyakin dia belum membutuhkan itu, karena dia masih suci
Pagi ini aku kembali disadarkan, bahwa kehidupan itu demikian singkat, sangat unpredictable, tidak ada patokan usia, tua, muda, bayi, jabang bayi smuanya bsa saja dipanggil olehNya. Dan yang paling kehilangan jika seseorang kembali padaNya adalah keluarga, hal terindah yang dimiliki seseorang di dunia ini.
Maka, menarilah jemariku memencet nomor telepon yang sangat kuhapal di luar kepala, hmm, beberapa urutan telah aku tentukan. Tujuan pertama adalah eyangku tercinta. Ketika ucapan salam teruluk dari sana, aku segera menjawabnya, yaa, aku yakin pasti itu suara eyang. Ingin kukabarkan duka itu, tapi aku keduluan. Beliau sudah tau dari my mom. *bundaku cepat sekaleee ngabarinnya…?* Nasehat demi nasehat terucap dari bibir sepuhnya. Eyang, betapa aku menyayangimu. Dari eyanglah aku tahu, bahwa kakak sepupuku barusan masuk rumah sakit. Bukan karena sakit, tapi karena sedang berjuang menghadirkan keponakan baru bagiku, cucu bagi budheku, dan cicit bagi eyangku
Jariku kembali menari, kali ini kakak sepupuku, uluk salam kembali terdengar. Looo, kok suara Mas Fardhal..?
yaaa, karena ternyata mbakku belum sadarkan diri, tapi alhamdulillah, bayinya sehat, laki-laki dengan berat 3 kg. Subhanallah… selamat datang keponakanku sayang.. Tangisanmu adalah senyum kami. Selamat datang di keluarga besar Moehammad Moengit Harso Soegondho. Sambil ngobrol sana sini, skalian ngabarin klu Dafa udah berpulang padaNya. Antara sedih dan bahagia memang, tapi itulah adanya hidup.
Nomor ketiga adalah Mbak Eppy. Lembut suaranya terdengar menguluk salam di ujung telepon. Suaranya terdengar letih, yaa maklumlah sedang hamil muda dan juga dalam keadaan berduka, sama sepertiku yang kehilangan keponakan tercinta. Darinya kudengar kisah Dafa, bagaimana keadaan ayah bundanya sekarang dan kabar smua keluarga di sana.
Ibu mana yang hatinya tidak terkoyak, jika belahan hati yang telah dinantikannya, yang telah 9 bulan dikandungnya, dan baru dibuainya 6 bulan harus diambil darinya untuk selamanya. Shock berat, itulah yang kesan yang kudapat ketika aku berbicara dengan Mbak Ita, kakak iparku. Namun alhamdulillah, Mas Jaka terlihat lebih tegar, padanya kubagikan semangat, doa, dan harapan. Smoga untuk selanjutnya kami bsa lebih ikhlas, sabar, tabah, tegar, dan tawakkal atas smua yang terjadi dalam kehidupan ini. Amin…Hari Ahad,
Dafa masih ceria maen ke rumah eyangnya. Cuma keliatan agak pucat saja, tapi masih saja guyon dan bertingkah lucu. Ketika ditanya apa Dafa sakit? Sang ayah cuma menjawab, tidak.Hari Senin,
Dafa mulai rewel dan muntah muntah. Ayah Bundanya memutuskan untuk membawanya check up ke dokter. Diagnosa adalah masuk angin biasa, disuruh banyak minum air putih saja.Hari Selasa,
Ayahnya sempat membawa Dafa jalan jalan. Tapi rewel dan muntah muntahnya tak kunjung berhenti. Apapun yang disuapkan kembali lagi. Dia mulai lemes. Ayahnya mulai bingung, dan membawanya ke dokter lain. Hasilnya sama dan tidak membawa perubahan. Akhirnya diputuskan untuk membawa Dafa ke RS Pondok Indah. Dan sungguh mengagetkan, Dafa divonis koma. Kemungkinan ditolong sangat tipis.Hari Rabu,
Inilah kuasa Illahi. Dafa yang baru berusia 6 bulan, yang sedang lucu lucunya berpulang kepada Allah, sang pemilik sejati. Sosok mungil yang putih dan montok itu terbaring layaknya Pangeran tidur, damai. Senyuman terakhirnya itu adalah buliran air mata kami. Kenyataan, bahwa dia tak lagi bsa membuat kami terkekeh geli melihat polahnya. Bahwa dia tak lagi bsa menghadirkan tangis dan cerianya di tengah tengah Ayah Bundanya. Dia telah pergi, untuk selamanya.
Aaahhh, tiba tiba saja aku begitu merindui ibuku. Walapun faktanya, aku sekarang bisa 2 sampai 3 kali telepon beliau. Segera kepencet 11 digit nomor yang sangat familier bagiku. Suara wanita separuh baya menguluk salam dari ujung sana, membawa kesejukan dan pengobat rinduku. Mengalirlah cerita demi cerita, berbagi kisah, saling menguatkan, memberi semangat, dan taujih. Bagiku, Ibu adalah harta termahal yang aku punya, dan aku akan menjaganya sepenuh hatiku. Karena aku sangat mencintai dan menyayanginya, I Luv U Mom, Forever n Ever……
Dan akupun kembali tergugu………………………………di meja kerjaku yang sarat muatan ini.

