Keke’s World :)

April 28, 2006

Sahabat Kecil

Filed under: Benchmark

"Ini siapa yang makan kue ndak dihabiskan?" tanya saya kepada istri malam itu. Di meja makan terdapat sepotong kue yang tidak habis termakan. "Itu potongan untuk Abang. Anak-anak dapat kue dari tetangga siang tadi, tapi mereka ingin membaginya untuk Abi", jelas isteri saya. "Ini Hufha, ini buat dede Iqna, ini Ummi, dan ini buat Abi", begitu katanya setelah memotong empat bagian kue itu. Anak-anak sudah tidur, semoga dalam mimpinya mereka melihat saya menikmati kue yang sengaja disisakannya. Saya selalu ingat setiap kali anak-anak mendapatkan kue atau makanan enak lainnya, mereka tak lupa menelepon saya di kantor untuk sekedar memberitahu kalau saya tidak perlu khawatir, karena mereka akan menyisihkan untuk saya.

Pagi hari, pertanyaan pertama anak-anak adalah, "Kuenya dimakan ndak Bi..?"

Saya pernah diprotes istri karena pulang terlambat. Padahal sebelumnya saya sudah berjanji untuk mengajak mereka jalan-jalan ke Mall. Setiap akhir bulan, anak-anak sudah hafal betul jadwal belanja bulanan kami. Meski masih terlalu kecil, mudah bagi mereka menandakan waktunya belanja bulanan. Jika persediaan susu mereka sudah menipis, itulah waktunya belanja. Saya menjanjikan akhir pekan ini akan mengajak mereka berbelanja, itu yang membuat mereka rela menahan kantuk tidak tidur siang karena takut ditinggal. Walaupun waktu belanja kami biasanya sesudah maghrib, sejak pk.16.00 anak-anak itu sudah cantik dengan baju pilihan mereka sendiri. Tapi, hari itu saya membuatnya kecewa. Pk.21.15 malam saya baru tiba di rumah dan mendapati kedua anak saya terlelap di sofa masih lengkap dengan baju bagus, sepatu dan jilbab yang tak lepas.

Pagi hari, mereka tak marah. "Hari ini kerja ndak? Pulangnya jangan malam-malam yaa, kan sudah janji mau ke Mall", Saya tak berani berjanji, tapi saya akan menepatinya. Sungguh.

"Mi, nanti kalau Abi pulang bangunin yaa", pesan anak pertama saya yang ingin membanggakan lima bintang yang diterimanya hari ini untuk pelajaran melukis di sekolah. Cerita isteri saya, sejak pulang sekolah kertas hasil lukisannya itu selalu dibawa bawa dan tak boleh disentuh siapapun. Tak satupun yang boleh melihatnya sebelum saya melihatnya dan mengatakan, "Duuh, pinternya cantik Abi". Setelah mandi sore, tercatat sebelas kali ia bertanya jam berapa saya pulang. Selepas maghrib, entah untuk keberapa kali ia bertanya, "Abi kok belum pulang sih..?", tentu saja dengan lukisan masih di tangannya. Ia pun berjaga-jaga di sofa menunggu kepulangan saya, agar apa yang saya dapatkan begitu membuka pintu adalah wajah cerianya sambil menunjukkan lima bintang di kertas lukisannya.

^_^

 

 

 

 

Yang dinanti tak kunjung tiba. Kantukpun tak kuasa ditahannya, lima bintang pun ikut terlelap dalam dekapannya. Hari masih terlalu dini, ia sudah bangun masih membawa kertas lukisannya ke kamar saya. Matanya masih mengantuk ketika ia membangunkan saya, "Bi, sudah lihat gambar Hufha..? Dapet bintang lima nih.."

Pekerjaan saya saat ini amat menyita waktu yang semestinya merupakan waktu untuk keluarga. Tak jarang mereka protes dengan kalimat, "kerja melulu, kapan liburnya..?". Ya, saya sering merasa bersalah setiap hari harus pergi untuk urusan pekerjaan di hari libur. Terlebih ketika harus membatalkan acara yang sudah direncanakan jauh hari. Cara mereka mengingatkan saya akan teramat banyaknya hutang kehadiran saya untuk mereka cukup unik, yakni dengan menyebut jumlah dongeng yang belum saya lakukan. Kalau saya pergi tiga hari, maka di malam saya menemani tidurnya, mereka akan minta saya merapel cerita jadi empat. Satu jatah malam ini, tiga cerita adalah untuk hari yang terlewati tanpa dongeng.

Kalau pun saya terlalu lelah untuk empat dongeng malam itu, merekapun tak marah. Hanya saja, "tapi besok jadi lima ya.."

Hari minggu kemarin, saya baru pulang ke rumah pk.20.30 malam. Siang harinya saya berjanji untuk pulang sore dan mengajak mereka berputar-putar dengan motor. Senja hampir tiba, mereka masih yakin saya akan segera pulang. Karenanya mereka menunggu saya sambil bersembunyi. Rupanya mereka berniat mengejutkan saya dari balik pintu, kali ini mereka tak berdiri, tapi sudah duduk. Mungkin lelah menunggu. Waktu terus berjalan, sampai merekapun terlelap di balik pintu, tak peduli kata-kata umminya bahwa saya akan terlambat pulang. "Nggak, Abi bilang sebentar kok perginya..", ujar si kecil.

Terlalu sering saya membuat anak-anak kecewa. Namun tak pernah saya mendapatkan wajah cemberut mereka meski saya tak tahu lagi dengan cara apa mengucap maaf. Tanpa meminta maafpun ternyata mereka sudah lebih dulu memaafkan. Mestinya saya belajar mencinta seperti mereka, dan cinta mereka adalah cinta yang putih. Seputih hatinya. emoticon - Bayu Gawtama -

 

* Membaca artikel ini, walaupun untuk ke sekian kalinya, tak pernah membuatku bosan. Sangat mendalam menggores nurani.. emoticon

April 27, 2006

Zakat, antara Ikhlas dan Terpaksa..??

Filed under: Curhatitisme, Benchmark

Seharian sibuk menjadi penerima tamu acara dengan rekanan kantor, baru sore ini tercenung gara gara baru menyadari bahwa cetakan kalender dari Baziskaf ada kesalahan, yaitu hilangnya tanggal 28 dari bulan April di tahun 2006 emoticon

Apa korelasinya dengan judul yang aku bikin yak..? klklklk, emang gak ada sih, cuma melihat banner di kalender duduk yang imut ini mengingatkanku atas pesan mendiang Ayah ketika aku baru masuk kerja, "Nduk, ntar jangan lupa yaa, 2.5% dari gajimu adalah milik orang lain, jangan ikutan dimakan tuuhhh…" emoticon Ayah… terima kasih atas smua petuah dan petunjukmu..

Kenapa sih harus berzakat? Wong itu hasil jerih payah kita, sampe dibelain lembur dan lain lain, lah mereka yang miskin maah biarin aja, sapa suruh jadi miskin.. Mungkin sisi hitam kita akan mengatakan demikian, tapi, bukankah tangan di atas itu lebih baik dari tangan di bawah..? Bukankah menolong itu adalah perbuatan yang sangat dicintai Allah..? Dan karena perintah zakat itu sudah jelas jelas ada dalam Al-qur’an, kitab panutan kita, gak percaya..? Masih mau mungkir..? Coba deh dibuka mushafnya…

QS. Al-Baqarah 267, yang artinya "Wahai orang-orang yang beriman, keluarkan zakat dari harta hasil usahamu" dan…

QS. At-Taubah 103, yang artinya "Pungutlah zakat dari harta benda mereka yang akan membersihkan dan mensucikan mereka" juga..

QS. Al-Ma’arij 24 - 25, yang artinya "Di dalam harta mereka terdapat bagian tertentu untuk orang (miskin) yang meminta dan yang tidak meminta" emoticon

Naaahh…sudah jelas kan..? Sekarang mo berdalih apa lagi, lagian sobat, coba deh diitung, 2.5% itu keciiiillll sekali, lebih kecil dari pada jatah pulsa kita, ato katakanlah masih banyakan jatah jajan kita sebulan, ato pengeluaran kita yang gak jelas manfaatnya apa. Kan lebih mendingan kita salurkan pada yang lebih baik, yang jelas ada manfaatnya, dunia akhirat lagi.. Pasti deh, bakalan untung besarrr…. Allah kan ndak akan membiarkan perbuatan baik kita sia sia tanpa hasil.. emoticon

* Jadi, mulai sekarang, jangan enggan deh yang namanya berzakat.. Smoga kita termasuk hamba yang shalih dan shalihat, amin.. emoticon

April 26, 2006

Domestic Violence

Filed under: Curhatitisme

Keren ya namanya, sekeren artinya, Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Olala..? Kekerasan..? Suami kepada istri atau sebaliknya..? Yups, butul itu, Kekerasan dalam rumah tangga bisa dilakukan oleh siapa saja, baik itu oleh ayah, ibu, anak, atau anggota keluarga lainnya.

Kenapa tiba tiba nulis yang serem begini? Wow, tentu saja bukan tanpa alasan, karena pagi ini ikutan seminar tentang "Domestic Violence" yang pematerinya pasti dah pada kenal, Psikiater yang merawat pasien face off yang fenomenal itu, klu gak salah namanya Dokter Nalini emoticon

Menurut ibu yang terlihat cantik dan sedap dipandang ini, bentuk bentuk kekerasan itu bsa berupa:

1. Financial Abuse
Ini termasuk jika pasangan sangat perhitungan dengan masalah uang, misalnya istri cuma diberi uang sebesar Rp.100 rebu sehari, dan sebelum tidur di malam harinya, maka sang istri harus melaporkan secara detail untuk apa saja uang tersebut, jangan sampai lupa penggunaannya walaupun cuma seribu rupiah, karena bisa jadi itu menjadi pangkal pertengkaran. Intinya adalah orang yang sangat amat pelit sekali terhadap masalah uang emoticon

2. Emotional Abuse
Klu masalah ini sangat banyak contohnya, seperti mengumpat/ mengucap kata kotor/ mencaci maki, dan sejenisnya emoticon

3. Fisik Abuse
Yang ini lebih jelas lagi, yaitu adanya tindakan pemukulan/ penganiayaan fisik baik tanpa alat maupun dengan alat bantu, termasuk pelecehan seksual dan perkosaan. emoticon

4. Stalking
Hmmm, masalah satu ini yang agak agak umum, jadi klu pasangan sudah mengintimidasi dengan cara menelpon hampir setiap detik, menit, jam, untuk sekedar menanyakan "kamu dimana? sedang apa? sama siapa? dll". Itu termasuk yang harus diwaspadai oleh kita emoticon Atau jika ada seseorang yang selalu menguntit kita kemanapun pergi, mengamati dan membuat kita merasa jengah tidak nyaman, itu juga perlu diwaspadai

Ada seorang peserta bertanya,
"Ibu, kan seorang istri itu sudah selayaknya untuk bersabar dan bersabar menghadapi jika suaminya melakukan tindak kekerasan? Karena mungkin memang kita yang salah, jadi suami jadi marah besar begitu.."

Pelan namun tegas beliau menjawab,
"Persepsi itulah yang harus diluruskan, bersabar itu bukanlah tanpa usaha, bersabar itu kadarnya tawakkal, klu ibu cuma pasrah dan nrimo itu bukan bersabar namanya, lagipula apa ibu rela, jika anak anak sampai melihat tindak kekerasan itu? Jangan salah, anak yang menyaksikan/ bahkan mengalami tindak kekerasan itu punya kans besar untuk menjadi pelaku/ korban tindak kekerasan kelak di usia dewasanya, karena itu bsa menyebabkan trauma yang hebat dan terbawa sepanjang hidupnya, dan lagi, lelaki dan perempuan itu tercipta untuk saling menghargai, masing masing adalah makhluk ciptaan Tuhan, bukan sansak hidup yang bsa diperlakukan semaunya seperti binatang"

Jadi sodara, klu punya kakak/ adik/ anak perempuan, dan ada seorang lelaki yang mendekatinya, tolong dilihat dulu, jika lelaki itu pencemburu hebat, suka main tangan, suka menganiaya, mengumpat, berkata kotor, pengguna miras dan napza, maka peringatkan mereka, cukup sampai di situ, jangan diteruskan, jika ingin hidupnya bahagia, karena itu sudah menjadi indikasi bahwa dia akan menjadi pelaku tindak kekerasan yang handal emoticon

Pada intinya, pakem orang jawa yang senantiasa mengutamakan "bibit, bebet, bobot" bukanlah isapan jempol belaka. Itu adalah benar adanya, karena orang yang sedari kecilnya sering melihat atau lebih parahnya sering mendapat/ melakukan tindakan kekerasan, maka dia punya kans besar untuk mengulanginya di masa dewasa/ telah berumah tangga.

* Bismillah… berhati hatilah setiap melangkah, dan tetap berlindung pada Allah, smoga kita smua mendapat ketenangan, keamanan dan perlindungan dariNya yang maha segalanya, aminemoticon

April 4, 2006

Muhammad Fayash Ayasha Fardhal

Filed under: Curhatitisme

Ayash panggilannya, bayi mungil itu baru dilahirkan 9 Maret yang lalu. Tapi.. baru berumur beberapa hari, udah sok ngangkat ngangkat pantatnya coba, trus suka sok miring ke kiri miring ke kanan, sok gedhe getu deh.. emoticon

Baiknya, dia gak pernah yang namanya nangis yang melengking sampe orang sekampung pada bangun, hanya dengan volume medium. Oyya, Ayash adalah keponakanku yang ketiga (dari keluarga besar Ibu) setelah Farah Azizah Fardhal dan Chandra (hehe, gak tau nama lengkapnya). Kemarin sempet maen ke rumah kosnya, dan gotcha…. i find brand new… emoticon

Belajar, yaahh… menggendong, ganti popok, ngasih minum (hehe, pake botol yaa sodara… emoticon) sampe makein baju. Mmmm, kata mbakku (ibunya Ayash, red), bayi yang baru lahir, akan bernafas melalui perutnya sampe kira kira berumur dua bulan, itu karena jantungnya masih lom bagus kerjanya, masih dalam proses getu.. Selain itu, selama sebulan, akan banyak "Gerakan Moro", hehe, lucu yaa namanya? Mirip nama suku di pedalaman Filiphina emoticon

Gerakan Moro adalah getaran kejut ato semacam kejang (tapi gak parah) pada bayi, jadi kayak kaget kaget gitu, apa yaa nama yang bsa dimengerti dengan enak.. mmmm, kayak gerakan kesetrum getu deh.. (emang kesetrum kayak apa gerakannya? emoticon)

Dari Ayash aku banyak belajar, mmmm, ternyata jadi ibu itu gampang gampang susah, mendidik anak itu klu gak ati ati bsa gawat juga, bahkan kemarin sempat terlontar satu pertanyaan yang bikin pusing gimana cara njawabnya. Farah bertanya, "Umi, emang sopan itu apaan sih..?" nah loo… pusing gak cara nyampein info agar bsa tersangkut di pemikiran bocahnya? Jadi inget ortuku, salutt banget buat beliau, yang sukses menjadikan aku anak yang.. yaaahh… beginilah, keren.. dan shalihat, insya Allah.. emoticon 

* So, welcome to the jungle Ayash, tantemu ini sangaaattt berterima kasih padamu, telah kau berikan sensasi yang lain di hatiku emoticon























Salam Smooths :)